Hukum Umroh itu Sunnah Muakkadah, Apa Artinya?

baitullah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Apa kabar Sahabat Muslim di seluruh pelosok negeri? Dari Sabang sampai Merauke, semoga Allah senantiasa melimpahkan rezeki yang berkah dan kesehatan yang paripurna untuk kita semua.

Mari kita duduk sejenak dan merenung di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang tak ada habisnya ini. Seringkali, ketika topik “Tanah Suci” diangkat dalam obrolan keluarga atau diskusi dengan teman sejawat, kita mendengar kalimat klasik seperti ini:

“Ah, Umroh itu kan cuma sunnah. Yang wajib itu Haji. Nanti sajalah kalau tabungan Hajinya sudah lunas.”

Atau kalimat yang lebih realistis:

“Uangnya ada sih, tapi nanggung. Mau buat renovasi dapur dulu, atau mau ganti mobil yang lebih muda tahunnya. Umroh mah kapan-kapan saja, Allah juga tahu kita belum siap.”

Pernahkah Ikhwan dan Akhwat merasakan hal yang sama? Atau jangan-jangan, kalimat itu pernah terucap dari lisan kita sendiri?

Rasanya, sudah menjadi rahasia umum di masyarakat kita bahwa Umroh sering dianggap sebagai “Ibadah Kelas Dua”. Ia diletakkan di urutan sekian dalam daftar prioritas hidup, jauh di bawah prioritas membeli rumah, kendaraan, atau liburan akhir tahun.

Padahal, Saudaraku, mari kita luruskan pandangan kita. Artikel ini hadir bukan untuk menggurui, tapi untuk mengajak kita menghitung ulang: Sudah benarkah cara kita memandang panggilan Allah ini?

1. Sunnah Muakkadah Atau “Sunnah Prioritas”

Di Indonesia, kita sering mendengar kajian para ulama mengenai hukum umroh. Meskipun dalam Mazhab Syafi’i (yang mayoritas kita anut) terdapat pendapat kuat yang mewajibkan umroh sekali seumur hidup, namun banyak pula ulama yang berpegang pada pendapat bahwa umroh hukumnya adalah Sunnah Muakkadah.

Apa itu Sunnah Muakkadah?

Ini artinya: Sunnah yang Sangat Ditekankan/Dianjurkan (Mendekati Wajib).

Jangan terjebak dengan kata “Sunnah”-nya saja, lalu kita menganggapnya remeh seperti shalat sunnah biasa. Tidak.

Sunnah Muakkadah dalam konteks umroh berarti ini adalah syiar Islam yang agung. Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan ibadah-ibadah utama, dan umroh adalah salah satu penyempurna agama kita.

Jika kita mampu membeli barang-barang branded, mampu liburan ke luar negeri, atau mampu mencicil kendaraan mewah, namun kita berlindung di balik kata “Ini kan cuma Sunnah” untuk menunda ke Baitullah, maka sesungguhnya kita sedang meremehkan undangan Allah.

Baca juga: Galau Pilih Waktu Umroh? Simak Bedanya Umroh Ramadan vs Reguler

Bayangkan, Allah sudah memberi kita “tiket VIP” berupa rezeki, tapi kita bilang: “Nanti dulu Ya Allah, saya mau beli sofa baru dulu.”

Jadi, meskipun hukumnya Sunnah Muakkadah, posisikanlah ia sebagai Top Priority dalam daftar impian kita.

2. Definisi “Mampu” yang Sering Kita Manipulasi

Di sinilah letak jebakan psikologis terbesar kita. Kata kuncinya adalah “Istitha’ah” atau Mampu.

Seringkali, setan membisikkan definisi “Mampu” yang keliru di telinga kita. Kita merasa baru disebut “Mampu Umroh” jika:

  • Cicilan rumah sudah lunas 100%.

  • Mobil sudah ganti baru.

  • Tabungan masa depan anak sudah aman sampai sarjana.

  • Ada uang “nganggur” ratusan juta di rekening.

Jika standarnya begitu, sampai tua pun kita tidak akan pernah merasa mampu. Karena nafsu duniawi manusia tidak ada garis finish-nya.

Mari kita jujur pada cermin.

Banyak dari kita yang merasa “berat” mengeluarkan Rp 30 juta untuk paket umroh. Tapi di saat yang sama, kita enteng menandatangani akad kredit mobil seharga Rp 300 juta dengan tenor 5 tahun.

Kita merasa “sayang” uang tabungan dipakai umroh, tapi kita tidak sayang saat uang itu habis untuk renovasi pagar rumah atau membeli gadget keluaran terbaru.

Itu bukan tidak mampu, Saudaraku. Itu namanya Tidak Memprioritaskan.

Allah Maha Tahu isi rekening kita. Allah Maha Tahu kemana saja aliran dana kita. Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang “mampu beli dunia, tapi pelit buat akhirat.”

3. Dilema Haji, Menunggu Tanpa Kepastian?

“Tapi saya kan sudah daftar Haji, antreannya 25 tahun lagi. Ya sudah saya tunggu saja.”

Niat Ikhwan dan Akhwat sudah mulia. Tapi, mari berpikir logis.

Antrean haji di Indonesia saat ini berkisar antara 20 hingga 40 tahun tergantung provinsi.

Pertanyaannya: Siapa yang menjamin umur kita sampai di sana?

Jika (Naudzubillah) usia kita terhenti di tengah masa tunggu, dan kita belum pernah ke Tanah Suci sama sekali—padahal sebenarnya uang kita cukup untuk Umroh—maka alangkah ruginya kita. Kita melewatkan kesempatan mencium Hajar Aswad dan shalat di Raudhah yang sebenarnya sudah ada di depan mata.

Baca juga: Ladies, Takut Umroh Sendirian? Simak “Solo Traveler” Umroh Aman & Nyaman

Umroh adalah “Haji Kecil”. Ia adalah obat rindu yang Allah sediakan bagi hamba-Nya yang sedang menunggu giliran Haji. Jangan jadikan antrean haji sebagai alasan untuk menunda berkunjung ke rumah-Nya. Baitullah itu buka setiap hari, kenapa harus menunggu 20 tahun lagi?

4. Umroh Itu Pengusir Kemiskinan

Ketakutan terbesar manusia adalah: Takut Miskin.

“Kalau uang 30 juta ini dipakai umroh, nanti tabungan menipis. Nanti kalau ada apa-apa gimana?”

Ini adalah logika matematika manusia: 10 – 3 = 7. Berkurang.

Tapi matematika Allah itu beda: 10 – 3 = 700. Berlipat ganda.

Rasulullah SAW memberikan garansi yang seharusnya membuat kita tidak ragu sedikitpun. Beliau bersabda:

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak.” (HR. Tirmidzi).

Perhatikan janjinya: Menghilangkan Kemiskinan.

Sudah ribuan testimoni jamaah dari petani di desa sampai direktur di kota yang berangkat dengan uang pas-pasan, namun pulang dari Tanah Suci rezekinya justru meledak.

Umroh adalah kunci pembuka pintu rezeki langit. Jadi, jangan takut uang habis. Allah yang Maha Kaya yang mengundang, Allah juga yang akan menanggung “biaya ganti”-nya.

5. Mumpung Raga Masih Kuat

Terakhir, Ikhwan dan Akhwat.

Ibadah di Tanah Suci itu 80% adalah ibadah fisik.

Tawaf itu berdesakan. Sa’i itu berjalan dan berlari kecil sejauh 3 kilometer lebih.

Sayang sekali jika Ikhwan dan Akhwat baru berangkat nanti saat rambut sudah memutih semua, saat lutut sudah nyeri kena asam urat, atau saat harus didorong kursi roda.

Rasanya akan beda.

Kenikmatan sujud di Hijir Ismail, kenikmatan mendaki Gua Hira, kenikmatan itikaf berjam-jam, itu paling sempurna dirasakan saat fisik masih bugar.

Mumpung Ikhwan masih muda, mumpung Akhwat masih sehat. Segerakanlah. Jangan menunggu sampai raga ini rapuh.

Luruskan Niat, Azzamkan Sekarang

Sahabat Muslim di seluruh Indonesia, tulisan ini tidak bermaksud membuat kita merasa bersalah, melainkan untuk membangunkan kesadaran.

Bahwa Umroh adalah Sunnah Muakkadah, sebuah amalan yang sangat dicintai Rasulullah dan sangat dianjurkan bagi siapa saja yang memiliki kelapangan rezeki.

Jangan biarkan “label sunnah” membuat kita menunda-nunda kebaikan. Jika hari ini Ikhwan dan Akhwat memiliki dana yang cukup, maka panggilan itu sejatinya sudah sampai di depan pintu hati. Tinggal kita yang memutuskan: Mau membukanya sekarang, atau membiarkannya berlalu?

Rencanakan Perjalanan Suci Bersama Asar Tour

Masih bingung menghitung budget agar tidak mengganggu keuangan keluarga? Atau butuh teman diskusi untuk memilih paket yang paling masuk akal, amanah, dan sesuai syariat? Jangan ragu. Kami di AsarTour.com siap menjadi mitra diskusi Ikhwan dan Akhwat.

Kami melayani jamaah dari seluruh Indonesia dengan transparansi dan pelayanan sepenuh hati. Kami menyediakan ragam paket yang bisa disesuaikan dengan kemampuan, agar sunnah muakkadah yang agung ini bisa segera Ikhwan tunaikan. Silakan cek informasi lengkapnya di agen travel umroh AsarTour.com, atau hubungi tim konsultan kami untuk sekadar bertanya-tanya. Mari kita jemput keberkahan di Tanah Suci, sebelum waktu kita di dunia habis.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *